Pengawasan Malaikat dan Hakikat Kiamat
Pengawasan Malaikat dan Hakikat Kiamat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 3 Sya’ban 1447 H / 22 Januari 2026 M.
Kajian Islam Tentang Bukti Kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Kiamat Kecil dan Kiamat Besar
Dalam Surah Qaf, terdapat penjelasan mengenai kiamat kecil (al-qiyamatus sugra) dan kiamat besar (al-qiyamatul kubra). Kiamat kecil berhubungan dengan wafatnya seorang hamba atau tibanya ajal ketika nyawa dicabut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kiamat ini bersifat individu dan pasti terjadi pada setiap manusia. Adapun kiamat besar adalah kehancuran alam semesta beserta seluruh isinya secara serentak.
Pengawasan Malaikat terhadap Ucapan dan Perbuatan
Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa melalui Surah Qaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan keberadaan malaikat yang selalu menyertai manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ . مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu katapun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf[50]: 17-18)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia dihitung dan dicatat dengan sangat teliti. Jika ucapan saja dicatat, maka amal perbuatan tentu lebih diperhitungkan. Terdapat kisah dari Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu Ta’ala ketika beliau sedang sakit. Saat beliau merintih menahan sakit, seorang murid menceritakan pendapat Imam Thaus seorang ulama tabiin bahwa rintihan orang sakit pun turut dicatat oleh malaikat. Sejak mendengarkan penjelasan tersebut, Imam Ahmad tidak pernah lagi merintih hingga akhir hayatnya karena keteguhan beliau dalam mengikuti dalil.
Dampak dari ucapan seringkali menjadi awal dari sebuah perbuatan. Meskipun lidah tidak bertulang dan ucapan dianggap lebih mudah keluar daripada melakukan tindakan fisik, keduanya sama-sama memiliki konsekuensi besar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di era digital, ucapan tidak hanya berupa lisan, tetapi juga ketikan di media sosial. Gerakan jari saat mengirim pesan memiliki nilai yang sama dengan ucapan lisan, yang jika disalahgunakan untuk menzalimi orang lain, dosanya setara dengan kejahatan fisik.
Kedahsyatan Sakaratul Maut
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitakan tentang fase kiamat kecil berupa sakaratul maut. Ini adalah saat-saat menjelang kematian yang sangat dahsyat dan menjadi titik awal perjumpaan roh hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam fase ini, balasan berupa pahala atau siksaan mulai disegerakan sebelum datangnya hari kiamat yang lebih besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan akan datang sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf[50]: 19)
Kematian adalah realitas yang sering dihindari oleh manusia, padahal ia pasti datang dan dialami oleh setiap jiwa. Surah Qaf menggambarkan kejadian ini dengan sangat nyata agar manusia senantiasa bersiap menghadapi saat jiwa dihadapkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Setelah kematian, setiap manusia akan mendapatkan balasan berupa pahala atau siksaan di dalam kubur sebagai persinggahan sebelum hari kebangkitan pada kiamat besar untuk menerima balasan yang kekal abadi. Bagi orang yang beriman, merenungkan ayat-ayat tentang hari akhir akan membangkitkan motivasi diri untuk mempersiapkan bekal menghadapi hari yang pasti terjadi tersebut. Peringatan-peringatan dalam Al-Qur’an ditujukan agar orang beriman dapat mengambil pelajaran darinya.
Hakikat Kiamat Kecil dan Kiamat Besar
Kematian bagi setiap individu disebut sebagai kiamat kecil (al-qiyamatus sugra). Sebagian ulama mengatakan bahwa siapa pun yang meninggal dunia, maka telah terjadi hari kiamat pada dirinya. Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kiamat besar (al-qiyamatul kubra) melalui firman-Nya:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ
“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang dijanjikan.” (QS. Qaf[50]: 20)
Hari kiamat adalah janji Allah yang pasti berlaku bagi seluruh alam semesta. Meskipun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui waktu terjadinya secara pasti, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan tanda-tandanya agar manusia dapat mempersiapkan diri. Sebagaimana firman-Nya:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا . فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا . إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا
“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’ Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Rabb Mu Lah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” (QS. An-Nazi’at[79]: 42-44)
Pengetahuan tentang waktu kiamat merupakan ilmu yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadits shahih dengan riwayat Imam Bukhari:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟
“Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hari kiamat, ia berkata: ‘Kapankah kiamat itu terjadi?’ Beliau bersabda: ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” (HR. Bukhari)
Fokus seorang hamba seharusnya bukan pada kapan kiamat terjadi, melainkan pada bekal amal yang telah disiapkan.
Pengiring dan Saksi di Hari Kebangkitan
Pada hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan keadaan semua makhluk saat menghadap-Nya. Setiap jiwa akan datang dengan didampingi oleh penuntun dan saksi yang akan bersaksi atas segala perbuatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ
“Dan datanglah setiap jiwa, bersamanya ada pengiring dan saksi.” (QS. Qaf[50]: 21)
Persaksian ini sangat luas cakupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil persaksian dari para malaikat penjaga (al-hafadah), para nabi yang bersaksi bagi umatnya, hingga tempat-tempat yang pernah digunakan hamba untuk melakukan kebaikan maupun keburukan. Bahkan, kulit manusia itu sendiri akan memberikan kesaksian atas kemaksiatan yang pernah dilakukan. Hal ini berkaitan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah[99]: 4)
Bumi akan menceritakan setiap berita perbuatan yang dilakukan manusia di atas permukaannya. Oleh karena itu, sebagian ulama menganjurkan agar seseorang berpindah tempat saat melaksanakan shalat sunnah setelah shalat wajib. Tujuannya adalah agar semakin banyak tempat di permukaan bumi yang kelak bersaksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ibadah yang telah dilakukan hamba tersebut.
Upaya memperbanyak tempat ibadah, seperti berpindah posisi saat melaksanakan shalat sunnah, bertujuan agar semakin banyak bagian di permukaan bumi yang menjadi saksi atas kebaikan seorang hamba. Begitu pula dengan keburukan; setiap tempat yang digunakan untuk bermaksiat akan memberikan kesaksian di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Persaksian Anggota Badan
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk membuat seluruh anggota badan manusia berbicara. Pada hari kiamat, mulut manusia akan dikunci, dan anggota tubuh lainnya lah yang akan memberikan keterangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin[36]: 65)
Meskipun Allah ‘Azza wa Jalla adalah Al-Alim (Maha Mengetahui) dan Al-Khabir (Maha Teliti) yang mengetahui segala sesuatu hingga hal yang tersembunyi di dalam dada, Dia tidak menghakimi hamba semata-mata berdasarkan ilmu-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkan persaksian dari makhluk-makhluk-Nya agar keadilan benar-benar nyata terlihat bagi setiap hamba.
Kedahsyatan Hari Penyingkapan
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seadil-adilnya hakim (Ahkamul Hakimin). Pada hari kiamat, tidak ada satupun perkara yang luput dari pengawasan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah[69]: 18)
Kedahsyatan hari tersebut juga terlihat dari ketelitian kitab catatan amal. Manusia akan merasa terheran-heran karena tidak ada amalan kecil maupun besar yang terlewatkan. Hal ini digambarkan dalam Al-Qur’an:
يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“… Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya secara rinci. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun.” (QS. Al-Kahf[18]: 49)
Prinsip Pengadilan dan Keadilan Ilahi
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan dalam menetapkan hukum berdasarkan bukti dan pengakuan. Beliau bersabda:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia, dan kalian mengadukan persengketaan kepadaku. Bisa jadi sebagian kalian lebih pandai dalam berargumen daripada yang lain, sehingga aku memutuskan perkara sesuai dengan apa yang aku dengar.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Bukti (saksi) wajib didatangkan oleh orang yang menuduh, dan sumpah wajib diucapkan oleh orang yang mengingkari (tuduhan).” (HR. Al-Baihaqi)
Dalam hukum Islam, terdapat kaidah bahwa penuduh harus membawa bukti atau saksi (al-bayinah), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي، وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ
“Bukti (saksi) wajib didatangkan oleh orang yang menuduh, dan sumpah wajib diucapkan oleh orang yang mengingkari (tuduhan).” (HR. Al-Baihaqi)
Sedangkan yang mengingkari tuduhan harus bersumpah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim, seorang hakim tidak diperbolehkan memberi hukum hanya berdasarkan pengetahuan pribadinya tanpa adanya bukti atau pengakuan di dalam persidangan.
Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun ilmu-Nya Maha Sempurna, Dia menghadirkan saksi-saksi agar hamba mengakui perbuatannya secara mutlak. Hal ini menunjukkan kesempurnaan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menyelesaikan urusan makhluk-Nya pada hari kiamat kelak. Manusia hendaknya senantiasa memohon taufik dan perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla agar tetap teguh di atas petunjuk agama-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa manusia sering kali melalaikan perkara yang sangat penting, yaitu persiapan menghadapi hari akhir. Padahal, urusan ini seharusnya tidak luput dari ingatan dan perhatian manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا
“Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini.” (QS. Qaf[50]: 22)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan keraguan mereka:
إِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ
“Sesungguhnya mereka benar-benar dalam keraguan yang membingungkan tentangnya.” (QS. Hud[11]: 110)
Penggunaan kata depan (harf) dalam ayat-ayat tersebut memberikan penekanan yang sangat kuat. Dalam kaidah bahasa Arab, penggunaan bentuk masdar menunjukkan bahwa kelalaian dan keraguan tersebut seolah-olah bersumber dari diri mereka sendiri secara mendalam. Hal ini lebih bermakna daripada sekadar berada dalam kelalaian. Sesuatu yang seharusnya menjadi dasar ingatan dan keyakinan justru dijadikan permulaan dari kelalaian mereka.
Seorang hamba yang beriman semestinya tidak lalai terhadap akhirat atau ragu akan datangnya hari kiamat. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat senantiasa mengingatkan tentang hari kebangkitan. Selain itu, tanda-tanda di alam semesta sangat nyata; adanya kematian yang menjemput manusia tanpa memandang usia baik muda maupun tua serta bertambahnya usia diri sendiri merupakan peringatan bagi orang-orang yang berakal.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56005-pengawasan-malaikat-dan-hakikat-kiamat/